Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Oktober 2017

Malioboro 1920 - Old Malioboro



credit to pambudi widodo

Inilah suasana Jl. Malioboro hampir seabad yang lalu, perhatikan mobil yang diparkir dipinggir jalan itu mirip andong, kalian yang dulu pernah lahir, tinggal, dan belajar di Jogja pasti pernah lewat di jalan ini, ya..... lokasinya didepan Gedung Senisono. Ayo konco2 kita belajar sejarah tentang gedung-gedung peninggalan masa kolonial di kota Jogja tercinta ini. 

pada jamannya, Dahulu, gedung ini merupakan bagian bangunan dari Societeit De Vereeniging yang didirikan pada tanggal 4 Juni 1822 atas prakarsa orang-orang Belanda yang dipelopori Luitnant de Terrie. Pada zaman kolonial, gedung ini merupakan pusat hiburan masyarakat Eropa. semacam operanya dijaman itu.

coba kita punya mesin waktu dan berkunjung pada jaman itu ya, pasti syahdu bener deh suasananya lingkungannya, apalagi masyarakatnya. walau dijaman tersebut masih jaman penjajahan. yogyakarta memang istimewa

Rara Lembayung


#sejarah
#yogyakarta
#gunungkidul

Credit to Prawiro rejo

Rara Lembayung



Dilahirkan dari pasangan bangsawan keturunan Prabu Brawijaya IV , RM. Kertanadi yang kemudian lebih di kenal sebagai Ki Ageng Giring III dan Nyi Talang Warih keturunan dari Sunan Pandan Arang, yang juga dikenal sebagai Sunan Tembayat.




Rara Lembayung lahir dan tumbuh di lingkungan pegunungan di daerah bernama Giring di Paliyan Gunungkidul. Dia mempunyai saudara laki laki bernama Wana Kusuma, yang kelak menjadi Ki Ageng Giring IV. Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang di darahnya mengalir darah biru, serta mempunyai ketaatan dalam beragama, dan sedang dalam “laku” prihatin, Rara Lembayung tumbuh menjadi wanita yang sangat taat pada orang tua dan semua ajaran ajarannya. Ki Ageng Giring III/ RM. Ketanadi adalah murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga.




Karena ketaatan dan pengabdiannya kepada orang tua, maka Rara Lembayung tak mampu menolak saat dijodohkan dengan Sutawijaya, yang konon kabarnya Sutawijaya tidak mencintainya. Nah..apakah Rara Lembayung juga mencintai Sutawijaya? (Dalam nalarku, pendapat pribadiku, tentu saja tidak).
Dari perkawinannya dengan Sutawijaya yang kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Senopati, lahirlah anak laki laki yang diberi nama Jaka Umbaran, kelak bergerlar Pangeran Purbaya (dimakamkan di Wot Galeh, Sleman).




Mengapa anak laki laki itu diberinya nama Jaka Umbaran? Karena Rara Lembayung harus menerima keadaan bahwa dia harus ditinggal pergi Sang Suami saat dia mengandung Jaka Umbaran. Wanita mana yang sanggup seperti itu jika bukan karena ketaatan pada orang tua dan kini sangat taat pada suaminya, walau bathin...tentu saja merintih. Berontak.




Saat Jaka Umbaran bersikeras untuk mengetahui siapakah ayahnya, Jaka Umbaran pergi untuk bertemu dengan ayahnya, Panembahan Senopati. Setelah bertemu dengan Panembahan Senopati, yang saat itu telah menjadi Raja Mataram, dan kerajaan dalam keadaan genting karena mempunyai musuh, Jaka Umbaran akan diakui sebagai anaknya jika mampu melenyapkan musuh kerajaan. Siapakah musuh kerajaan itu? Mereka adalah ibunya dan pamannya sendiri, Ki Gede Wanakusuma, saudara laki laki dari ibunya, Rara Lembayung.




Demi sebuah tujuan yang ingin dicapai, Jaka Umbaran kembali pulang dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Rara Lembayung dan Ki Gede Wanakusuma, demi masa depan anak cucunya kelak, rela berkorban dan tewas “nglabuhi” tujuan dari Jaka Umbaran.




Rara Lembayung Niken Purwosari, hingga kini masih “lelaku mrihatinake” anak cucu dan keturunannya, dengan makamnya yang hingga sekarang “tidak bersedia” untuk dibangun atap. Hingga sekarang masih dibawah langit dengan didera panas dan hujan. Mungkin.... laku seperti itulah Rara Lembayung “mrihatinke anak putu”.




Semoga Tuhan memperkenankan dan melimpahkan semua rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Amin.

Suku kalang


Credit to : tedy pitrasari (kelrabat jogja)

suku kalang ??? nah ini pengetahuan baru lagi kan ?? mari kita lihat dan dalami budaya bangsa kita

Suku Kalang adalah sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di seputar Jawa Tengah dan Jawa Timur yang keberadaannya kini entah ada dimana. Secara mitos, mereka dianggap suku yang aneh sekaligus misterius. Dalam sebuah artikel, saya pernah membaca bahwa mereka sebenarnya bukan suku Jawa, tetapi pendatang dari India pelosok yang masih terbelakang alias primitif. Kedatangan mereka ke bumi nusantara dibawa oleh saudagar-saudagar India sebagai pengawal sekaligus kuli angkut barang. Ini karena diyakini, Suku Kalang memiliki tenaga aneh dan sejumlah kemampuan di luar akal sehat. Namun karena terbelakang dan tidak berpendidikan, Suku Kalang mudah dibodohi atau diperintah layaknya budak. Pendapat ini dikemukan oleh PJ Veth yang menulis buku "Java".
Soemarsaid Moertono menentang pendapat ini dalam bukunya "Negara dan Usah Bina Negara di Jawa Masa Lampau" . Soemarsaid memberikan pendapat bahwa Suku Kalang adalah suku primitif yang ada di Jawa keturunan Pra-Dravidia atau Porto Melayu yang hanya bisa hidup di hutan secara berpindah-pindah. Meski hampir sama, namun pendapat ini berbeda dengan Robert-Read dalam buku “Penjelajah Bahari, Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika”, terbitan Mizan. Pelaut Indonesia diindikasikan pernah berada di India Selatan saat era pra-Dravidia 500 tahun sebelum masehi. Jika dihubung-hubungkan ketiga pendapat tersebut, bisa jadi Suku Kalang sebenarnya adalah orang Indonesia yang melaut hingga India namun nasib yang membawa mereka kembali ke nusantara menjadi budak.
Pendapat ekstrim diutarakan oleh Mitsuo Nakamura (1983), seorang Antropolog Jepang yang menyebut suku Kalang adalah keturunan anjing atau kera. Ini karena sebagai manusia mereka justru memiliki ekor meski pendek. Penyebutan Kalang diidentifikasi lebih halus oleh Gericke Roorda bahwa Kalang artinya " di luar ", masyarakat yang berada di luar kebiasaan manusia biasa.
Berbagai pendapat negatif muncul tentang suku Kalang karena sejumlah perilakunya dianggap menyimpang. Namun yang paling postif mereka sangat ulet dan pekerja keras tanpa mengenal lelah. Akibat gunjingan kurang baik ini Suku Kalang dahulu sering menyembunyikan identitas dirinya kepada masyarakat umum.
Prasasti Harinjing (804 M) dan Panggumulan ( 904 M) telah menyebut tentang keberadaan suku ini di masyarakat. Harinjing menyebut Tuha Kalang ( Kepala Suku Kalang ) , sementara Panggumulan menyebut Pandhe Kalang ( penebang kayu Suku Kalang ).
Di Masa Majapahit, Suku Kalang atau biasa disebut Wong Kalang, diberdayakan untuk membangun candi-candi besar, khususnya candi yang dianggap punya nilai spiritual tinggi. Ini karena wong Kalang bekerja tanpa bersuara yang dianggap sebagai tapa mbisu. Bertapa tanpa mengeluarkan suara mirip orang bisu. Selain itu lewat kemampuan khusus yang cenderung mistis, wong Kalang mampu memindahkan batu-batu besar secara ajaib. Mereka mengangkat batu gunung seringan mengangkat pohon walau tetap dilakukan secara beramai-ramai.
Meski jumlahnya tak begitu banyak, mereka yang dianggap sakti dan lebih linuwih dari yang lain, dikumpulkan secara tersendiri. Kelompok ini kemudian dijadikan pasukan khusus urusan perang gaib alias perang klenik. Dalam penyerangan Majapahit ke Kalimantan, kelompok Suku Kalang di libatkan sepenuhnya untuk menghadapi suku Dayak yang memang cukup tangguh dalam urusan ilmu gaib.
Kemenangan Majapahit atas Kalimantan tersebut membuat Empu Nala membalas jasa-jasa orang Kalang yang terlibat dengan mengangkatnya sebagai perwira-perwira khusus. Namun perilaku yang cenderung aneh dan liar membuat Majapahit kemudian mencopot kembali jabatan-jabatan tersebut dan mengembalikan Suku Kalang tetap sebagai pasukan back up saja. Mereka tetap tidak memegang komando tapi dikomandoi. Suku Kalang dianggap sulit diangkat kastanya sebagai Kesatria dalam Tri Wangsa ( Brahmana, Kesatria, Tri Wangsa). Tentangan paling keras di lakukan oleh Kaum Brahmana karena tindak tanduk Suku Kalang yang bahkan dianggap masih kalah beradab dibanding kaum sudra.
Sisa-sisa mistisisasi suku Kalang masih terasa hingga jaman mulai modern. Gubernur Raffles 1811-1816) yang punya ketertarikan mendalam terhadap seni dan kebudayaan Indonesia pernah membuat catatan tentang ritual-ritual mereka, diantaranya : Wuku ang’gara yakni ritual yang dilaksanakan pada hari Kliwon kelima, ritual wuku galingan yang dinyatakan sebagai hari suci menghentikan semua pekerjaan apapun, serta ritual wuku gumreg sebagai perwujudan rasa syukur. Ada juga ritual kalang obong dimana mereka membakar jasad orang tua atau kerabat yang meninggal lewat perantaraan boneka kayu. Mitosnya, saat boneka tersebut dibakar, bersamaan dengan itu jenasah yang dituju ikut pula terbakar.
Meski masa Hindu telah lewat dan Islam yang tak mengenal kasta berjaya di nusantara, Suku Kalang dimasa Sultan Agung justru dicari dimanapun berada dan dikumpulkan menjadi satu di Jawa Tengah. Mereka dibuatkan semacam camp besar dengan penjagaan ketat. Ini akhirnya memunculkan pendapat baru tentang nama Kalang. Dalam bahasa Jawa, Kalang artinya di buatkan penghalang, lingkaran, ruang atau halaman, dengan mengambil kata kerja " di kalangi " ( dilingkari ). Untuk mengkoordinir masyarakat Kalang ditunjuk salah satu diantara mereka yang paling dihormati dan diberi pangkat Tumenggung. Lewat Tumenggung ini berbagai perintah kerja diberikan. Tugas mereka masih sama, yakni kerja kasar layaknya budak. Menebang dan mengangkut kayu pohon, menjadi kuli panggul dan lain sebagainya. Selain itu beberapa orang diantara mereka diambil kalangan bangsawan sebagai abdi dalem untuk mengerjakan tugas-tugas kasar di rumah mereka masing-masing.
Kekalahan Sultan Agung terhadap Belanda membuat orang-orang Kalang berpindah dari Jawa Tengah ke Yogyakarta, tepatnya di Kotagede. Pemerintah lokal tidak lagi terlalu memberikan perhatikan khusus terhadap keturunan Kalang. Suku Kalang yang selama sekian periode dipaksa untuk bersentuhan dengan dunia umum akhirnya terbiasa. Mereka mulai melupakan ritual-ritual mistis dan bekerja layaknya manusia pada umumnya. Mereka ikut serta meluaskan pengetahuan dalam dunia bisnis. Karena watak dasarnya yang ulet, Suku Kalang rata-rata kaya raya sekaligus sebagai penyumbang dana besar kepada pemerintah setempat. Kraton memberinya imbalan dengan memberikan gelar-gelar khusus sehingga secara strata sosial lebih terpandang. Masyarakatpun mulai membanding-bandingkan keuletan kerja Suku Kalang dengan Suku Tionghoa. Kekayaan mereka menjadi sangat luar biasa dengan ciri rumah megah bergaya Eropa dengan ornamen batu mewah. Hebatnya, untuk menaikkan gengsi, pebisnis Kalang bahkan memiliki pembantu bersuku Tionghoa maupun Eropa.
Di masa revolusi kemerdekaan lagi-lagi Suku Kalang jatuh menderita. Mereka menjadi sasaran-sasaran penjarahan atau perampokan masal setiap kali ada kerusuhan, sama dengan yang dialami suku Tionghoa. Saat ibukota pindah ke Yogya, Sultan HB IX juga meminta golongan Suku Kalang menyumbang dana besar bagi perjuangan Republik.
Sebelum memasuki abad ke-20 awalnya di Kotagede terdapat dua sub-kelompok di kalangan Wong Kalang, tinggal di daerah Tegalgendu. Ada satu sub-kelompok Wong Kalang yang tinggal di daerah kuasa Kasunanan Surakarta. Pekerjaannya adalah spesialis ketrampilan mengolah kayu dan membuat produk dari kayu. Memperbaiki bangunan-bangunan di kompleks Makam Raja dan rumah-rumah bangsawan sekitar situ adalah jenis pekerjaannya. Satunya lagi, sub-kelompok Wong Kalang yang tinggal di daerah kuasa Kasultanan Yogyakarta. Secara umum pekerjaannya adalah jasa transportasi tradisional, dari piranti kuda atau sapi hingga kendaraan bermotor. Wong Kalang juga diingat oleh masyarakat Kotagede sebagai orang pribumi pertama di Jawa yang membeli sejumlah mobil ketika produk itu diimpor ke Jawa.
Bisnis ini semakin meningkat ketika pihak kraton Yogyakarta memberikan monopoli pada kelompok ini, terkait jasa pengangkutan barang-barang antara kota pelabuhan Semarang di pantai utara dan kota Yogyakarta. Bisnis mereka semakin membesar ketika sub-kelompok Surakarta juga memperoleh lisensi dari kraton Surakarta untuk membuka rumah gadai ke seluruh wilayah. Walhasil, dalam waktu singkat mereka berhasil mengembangkan jaringan luas rumah gadai yang membawa keuntungan sangat besar.
Selain itu, seturut catatan Claude Guillot, pekerjaan mereka yang lain adalah pedagang. Bekerja sebagai pedagang bukanlah monopoli kaum laki-laki tapi juga pekerjaan kaum perempuan. Mengambil contoh keluarga Mulyosuwarno dan istrinya Fatimah, Claude Guillot mencatat bahwa keluarga Kalang itu tak hanya berjualan kebutuhan sehari-hari berupa sembako, melainkan juga berdagang kain batik, emas serta berlian. Sementara Kotagede sendiri menurut catatan Van Mook (1926) adalah pusat perdagangan berlian terbesar di Hindia Belanda, dan pusat tersebut dipegang oleh keluarga Wong Kalang. Hasilnya mudah diterka, sepasang suami istri itu sudah sangat kaya dan menyandang status sosial yang tinggi. Anaknya, Prawirosuwarno, yang lahir pada 1873 dan pada akhir abad ke-19 masih usia remaja, diceritakan biasa keluar masuk istana Yogya secara bebas dan bermain-main dengan pangeran yang nantinya menjadi Sultan Hamengkubuwono VIII.
Mitsuo Nakamura juga mencatat, bahwa besarnya kekayaan yang terkumpul oleh keluarga Kalang kini masih dapat dengan mudah dikenali. Di Kotagede terdapat sekitar selusin rumah-rumah besar milik Wong Kalang yang mirip istana dibangun pada awal dasawarsa abad ke-20. Salah satunya ialah rumah di tepi timur Sungai Gajah Wong, sebuah rumah dengan dua garasi yang momot delapan mobil dan sebuah kandang untuk duapuluhan kuda.
Menariknya, seturut catatan Mitsuo Nakamura itu, cerita lokal Kotagede mengatakan bahwa suatu waktu sekitar Perang Dunia ke I, keluarga ini memperoleh keuntungan yang sangat besar dari bisnisnya. Karena itu mereka bermaksud menutup seluruh lantai ruang pendapa dengan uang koin perak. Entah dengan maksud apa, yang jelas sekiranya ruang pendapa itu seluruh lantainya ditutup dengan koin uang perak maka wajah Ratu Wilhelmina yang ada di mata uang tersebut akan diinjak-injak oleh orang pribumi. Mendengar rencana itu, residen Belanda di Yogyakarta terang merasa jengkel, namun juga enggak punya alasan yuridis untuk melarangnya. Maka residen pun bersiasat, menyarankan koin perak itu dipasang tegak dan bukan mendatar. Sekalipun keluarga Kalang itu superkaya tentu saja tetap tak cukup punya sejumlah sangat besar uang koin untuk memenuhi ‘saran’ residen itu, dan akhirnya rencana tersebut pun batal.
Lantas, pertanyaannya apa yang membuat Wong Kalang dipandang negatif oleh Wong Jawa? Mereka selain dikenal suka memamerkan kekayaannya secara berlebihan juga dikenal sangat hemat atau bahkan cenderung kikir. Bagi Wong Kalang uang hendaknya tidak digunakan untuk pendidikan, karena hal ini berarti memberikan keuntungan bagi Wong Londo; juga bukan digunakan untuk membayar zakat (Islam); serta tidak untuk membiayai pagelaran kebudayaan seperti menanggap wayang atau gamelan (Jawa). Lebih dari itu, Wong Kalang juga cenderung menghindari keterlibatan diri dalam dunia politik. Ditambah dengan sistem pernikahan yang cenderung endogami, dengan demikian Wong Kalang cenderung hidup dalam dunianya sendiri yang ekslusif dan semata-mata uang. Barangkali saja kisah Wong Kalang mirip cerita Paman Gober dalam komik Donal Bebek.

Ndalem Natan - Natan House



Credit to : sandi julian kerabat jogja

udah tau belum tentang ndalem proyodranan ?? mari kita bahas bersama....

Ndalem Proyodranan atau sekarang lebih dikenal dengan nama Ndalem Natan.
Dibangun pada tahun 1857 oleh Proyodrana, seorang pengusaha saudagar kaya raya yang memiliki bank dan bisnis transportasi, mulai dari kereta hingga mobil.Kekayaan dan kedekatan dengan kerajaan memungkinkan sang pemilik mendirikan rumah mewah bergaya Jawa ini. Pembagian ruang terdiri dari pendapa, pringgitan, sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Terdapat juga gandok kiri dan gandok kanan yang terdapat di bagian sayap rumah.Bagian belakang rumah juga masih terdapat beberapa ruang untuk dapur dan juga tempat untuk membatik. Sebenarnya terdapat pula bunker yang sekarang ini sudah ditutup cor beton.
Kemewahan bangunan ini ditopang gaya art nouveau.Kaca patri dengan gaya floral, garis-garis lengkung yang terdapat pada pintu, motif nanasan pada pilar yang terbuat dari kayu jati utuh. Berbagai piranti juga mengusung gaya yang sama, seperti meja-kursi dan lemari, teralis jendela dan bovenyang terbuat dari besi solid, plafon yang terbuat dari baja, porselin bermotif floral.
Dunia usaha sang pemilik terpatri jelas di berbagai sudut. Pada teralis terdapat ikon-ikon alat transportasi seperti kompas, jangkar, roda dan perahu yang bersatu memaparkan filofosi kehidupan.Kehidupan yang digambarkan pada sebuah perahu di tengah samudera tak bertepi, roda kehidupan yang selalu mengarah pada Sang Pencipta adalah beberapa makna yang bisa dilihat dari teralis jendela. Hebatnya lagi, material yang digunakan adalah besi solid.
Penjiwaan sebagai bagian dari masyarakat Mataram juga tampak dari kaca patri yang menghadirkan Gunung Merapi dan Laut Selatan. Guratan pada daun pintu pun tak luput dari visualisasi sarat makna. Permainan garis dengan ujung anak panah merujuk pada nama Allah, sisi utara dan selatan (representasi dari Gunung Merapi dan Laut Selatan) dan empat unsur kehidupan (api, air, tanah, udara). Sebuah percampuran budaya Islam Sufi dan Mataram Hindu.
Menurut cerita penduduk setempat dulu Ndalem Proyodranan sering dipakai sebagai tempat pertunjukan wayang kulit dan tarian tradisional (yang menurut saya semua rumah suku kalang memang sering menggelar acara kesenian di masing-masing rumah pribadi dan mungkin digelar secara bergantian mengingat desain rumah dan kekayaan mereka).
Sekarang Ndalem Proyodranan sudah dimiliki oleh bapak Nasir Tamara dan dipergunakan sebagai guest house yang bertemakan Royal Herritage...

Andong - Delman





Suasana di depan Stasiun Toegoe dan Malioboro tahun 1948 begitu ramainya, perhatikan andong2 itu, saat itu jumlah andong lebih banyak dibandingkan dengan mobil, sebab andong merupakan angkutan umum kala itu, dari zaman dulu sampai sekarang bentuknya tetap abadi tidak ada perubahan, sekarang ini andong menjadi salah satu ikon (ciri khas) kota Jogja, pernahkah kalian punya kenangan masa kanak2 dengan andong ini, biasanya yang saya lakukan "nggandul andong nang mburi" (naik andong gratis).

siapa yang suka naik andong ? adakah kenangan yang pernah dirasakan dengan andong di masa kecil ? Andong atau delman di yogyakarta masih lestasi untuk keliling wisata didaerah alun-alun dan malioboro. wajib naik nih !!! kalau didaerha lain sudah sangat jarang ya tapi di daerah brebes, tegal masih digunakan sebagai alternatif transportasi selain angkutan dan gojek yang sudah masuk daerah ini

naik andong itu enak. silir adem tenang dan lier-lier gimana gitu haha. budaya memang butuh dilestarikan. semoga dengan penataan dan pengelolaan yang benar. andong dapat menjadi daya tarik wisata baru disetiap daerah. 

Credit to : pambudi widodo kerabat jogja

Selasa, 28 Maret 2017

Blangkon sang penjaga nurani



Blangkon adalah tutup kepala yang digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik. Tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan asal mula pria jawa memakai ikat kepala atau penutup kepala ini.
Pada masyarakat jawa jaman dahulu, memang ada satu cerita Legenda tentang Aji Soko. Dalam cerita ini, keberadaan iket kepala pun telah disebut, yaitu saat Aji Soko berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa, hanya dengan menggelar sejenis sorban yang dapat menutup seluruh tanah Jawa. Padahal seperti kita ketahui , Aji Soko kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941 tahun yang lalu.
Blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. Ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. Yang dipergunakan sebenarnya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari telinga kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. Pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar. Blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu : Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bagian belakang blangkon yang berbentuk seperti Onde-onde. Blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya Yogyakarta. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.
Blangkon iku sajinis panutup sirah kanggo wong priya sing kagawé saka bahan kain bathik utawa lurik. Blangkon sejatiné wujud modhèrn lan praktis saka iket. Ing busana tradhisional adat Jawa lan adat Sundha blangkon dianggo minangka pasangan karo busana beskap.
Model trepes, yang disebut dengan gaya Surakarta. Gaya ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul karena kebanyakan pria sekarang berambut pendek. Model trepes ini dibuat dengan cara menjahit langsung mondholan pada bagian belakang blangkon. Selain dari suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), ada beberapa suku laindi Indonesia yang memakai iket kepala yang mirip dengan blangkon jawa yaitu : suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain. Hanya saja dengan pakem dan bentuk ikat yang berbeda-beda.

Ketika Raffles jatuh cinta



Charles Wilkins yang pernah ditemui Sir Stamford Raffles diduga Thomas Jefferson sebagai orang yang paling berpengaruh bagi Raffles dalam pembentukkan watak keterpesonaannya terhadap sejarah negeri dan kemegahan artistiknya. Karena ditugaskan di sebuah gedung yang sama selama 4 tahun, kemungkinan besar Raffles banyak mendengarkan obrolan-obrolan Wilkins mengenai betapa negeri ini pada jaman dahulu memiliki semangat artistik yang tinggi. Tumbuhnya ketertarikan Raffles dengan sejarah negeri ini mendapat jalannya tatkala ia ditugaskan di Pulau Jawa dalam sebuah ekspedisi pengusiran aneksasi Perancis di tanah kolonial Belanda. Lamanya penugasan di Jawa itulah ia menemukan reruntuhan-reruntuhan dan sisa-sisa potongan sejarah Hindu-Budha yang terkubur, yang saat ini kita sebut sebagai candi.

Raffles mendapatkan bantuan memadai dalam penelitiannya mengenai Jawa. Ia memiliki beberapa asisten yang ditugaskannya untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai Jawa dan sejarahnya. Laporan terpenting yang dihasilkan oleh para asistennya itu mengabarkan tentang penemuan sebuah candi besar yang ditemukan tersembunyi di hutan rimba dekat Yogyakarta. Candi ini sama sekali tak diketahui Belanda, dan penemuan itu sungguh-sungguh membuat Raffles begitu gembira sehingga ia segera menuju lokasi ditemukannya candi tersebut. Candi itu kini dikenal dengan nama Borobudur.

Raffles terpesona melihat Candi Borobudur dan menyebutnya sebagai hasil karya seni. Ukiran-ukiran yang terdapat dalam Borobudur diimajikan dengan gambaran atsmosfer zaman keemasan, ketika manusia dan hewan pergi bersama-sama dengan gembira. Ia menghadirkan kembali—dalam bahasa Edward Wadie Said—imaji, irama, dan corak yang kembali direkayasanya. Memisalkan suatu contoh kepentingan Hegemonics dalam kebudayaan, Edward Said menunjukkan bahwa Colonialism dan Orientalism adalah hidung-hidung tertunjuk dalam kepeloporan kasus-kasus penggelapan sejarah dan nativisasi. 'Jasa Raffles' merupakan modal berharga bagi kolonialisme kebudayaan yang telah dimulai pada abad ke-19. Belanda yang mewarisi hasil kerja Raffles berhasil memanfaatkannya untuk misi kolonialisme dan ocehan sumbangnya tentang ‘pengadaban’.