Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Oktober 2017

Rara Lembayung


#sejarah
#yogyakarta
#gunungkidul

Credit to Prawiro rejo

Rara Lembayung



Dilahirkan dari pasangan bangsawan keturunan Prabu Brawijaya IV , RM. Kertanadi yang kemudian lebih di kenal sebagai Ki Ageng Giring III dan Nyi Talang Warih keturunan dari Sunan Pandan Arang, yang juga dikenal sebagai Sunan Tembayat.




Rara Lembayung lahir dan tumbuh di lingkungan pegunungan di daerah bernama Giring di Paliyan Gunungkidul. Dia mempunyai saudara laki laki bernama Wana Kusuma, yang kelak menjadi Ki Ageng Giring IV. Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang di darahnya mengalir darah biru, serta mempunyai ketaatan dalam beragama, dan sedang dalam “laku” prihatin, Rara Lembayung tumbuh menjadi wanita yang sangat taat pada orang tua dan semua ajaran ajarannya. Ki Ageng Giring III/ RM. Ketanadi adalah murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga.




Karena ketaatan dan pengabdiannya kepada orang tua, maka Rara Lembayung tak mampu menolak saat dijodohkan dengan Sutawijaya, yang konon kabarnya Sutawijaya tidak mencintainya. Nah..apakah Rara Lembayung juga mencintai Sutawijaya? (Dalam nalarku, pendapat pribadiku, tentu saja tidak).
Dari perkawinannya dengan Sutawijaya yang kemudian dikenal dengan gelar Panembahan Senopati, lahirlah anak laki laki yang diberi nama Jaka Umbaran, kelak bergerlar Pangeran Purbaya (dimakamkan di Wot Galeh, Sleman).




Mengapa anak laki laki itu diberinya nama Jaka Umbaran? Karena Rara Lembayung harus menerima keadaan bahwa dia harus ditinggal pergi Sang Suami saat dia mengandung Jaka Umbaran. Wanita mana yang sanggup seperti itu jika bukan karena ketaatan pada orang tua dan kini sangat taat pada suaminya, walau bathin...tentu saja merintih. Berontak.




Saat Jaka Umbaran bersikeras untuk mengetahui siapakah ayahnya, Jaka Umbaran pergi untuk bertemu dengan ayahnya, Panembahan Senopati. Setelah bertemu dengan Panembahan Senopati, yang saat itu telah menjadi Raja Mataram, dan kerajaan dalam keadaan genting karena mempunyai musuh, Jaka Umbaran akan diakui sebagai anaknya jika mampu melenyapkan musuh kerajaan. Siapakah musuh kerajaan itu? Mereka adalah ibunya dan pamannya sendiri, Ki Gede Wanakusuma, saudara laki laki dari ibunya, Rara Lembayung.




Demi sebuah tujuan yang ingin dicapai, Jaka Umbaran kembali pulang dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Rara Lembayung dan Ki Gede Wanakusuma, demi masa depan anak cucunya kelak, rela berkorban dan tewas “nglabuhi” tujuan dari Jaka Umbaran.




Rara Lembayung Niken Purwosari, hingga kini masih “lelaku mrihatinake” anak cucu dan keturunannya, dengan makamnya yang hingga sekarang “tidak bersedia” untuk dibangun atap. Hingga sekarang masih dibawah langit dengan didera panas dan hujan. Mungkin.... laku seperti itulah Rara Lembayung “mrihatinke anak putu”.




Semoga Tuhan memperkenankan dan melimpahkan semua rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Amin.

Ndalem Natan - Natan House



Credit to : sandi julian kerabat jogja

udah tau belum tentang ndalem proyodranan ?? mari kita bahas bersama....

Ndalem Proyodranan atau sekarang lebih dikenal dengan nama Ndalem Natan.
Dibangun pada tahun 1857 oleh Proyodrana, seorang pengusaha saudagar kaya raya yang memiliki bank dan bisnis transportasi, mulai dari kereta hingga mobil.Kekayaan dan kedekatan dengan kerajaan memungkinkan sang pemilik mendirikan rumah mewah bergaya Jawa ini. Pembagian ruang terdiri dari pendapa, pringgitan, sentong tengah, sentong kiri dan kanan. Terdapat juga gandok kiri dan gandok kanan yang terdapat di bagian sayap rumah.Bagian belakang rumah juga masih terdapat beberapa ruang untuk dapur dan juga tempat untuk membatik. Sebenarnya terdapat pula bunker yang sekarang ini sudah ditutup cor beton.
Kemewahan bangunan ini ditopang gaya art nouveau.Kaca patri dengan gaya floral, garis-garis lengkung yang terdapat pada pintu, motif nanasan pada pilar yang terbuat dari kayu jati utuh. Berbagai piranti juga mengusung gaya yang sama, seperti meja-kursi dan lemari, teralis jendela dan bovenyang terbuat dari besi solid, plafon yang terbuat dari baja, porselin bermotif floral.
Dunia usaha sang pemilik terpatri jelas di berbagai sudut. Pada teralis terdapat ikon-ikon alat transportasi seperti kompas, jangkar, roda dan perahu yang bersatu memaparkan filofosi kehidupan.Kehidupan yang digambarkan pada sebuah perahu di tengah samudera tak bertepi, roda kehidupan yang selalu mengarah pada Sang Pencipta adalah beberapa makna yang bisa dilihat dari teralis jendela. Hebatnya lagi, material yang digunakan adalah besi solid.
Penjiwaan sebagai bagian dari masyarakat Mataram juga tampak dari kaca patri yang menghadirkan Gunung Merapi dan Laut Selatan. Guratan pada daun pintu pun tak luput dari visualisasi sarat makna. Permainan garis dengan ujung anak panah merujuk pada nama Allah, sisi utara dan selatan (representasi dari Gunung Merapi dan Laut Selatan) dan empat unsur kehidupan (api, air, tanah, udara). Sebuah percampuran budaya Islam Sufi dan Mataram Hindu.
Menurut cerita penduduk setempat dulu Ndalem Proyodranan sering dipakai sebagai tempat pertunjukan wayang kulit dan tarian tradisional (yang menurut saya semua rumah suku kalang memang sering menggelar acara kesenian di masing-masing rumah pribadi dan mungkin digelar secara bergantian mengingat desain rumah dan kekayaan mereka).
Sekarang Ndalem Proyodranan sudah dimiliki oleh bapak Nasir Tamara dan dipergunakan sebagai guest house yang bertemakan Royal Herritage...

Senin, 27 Maret 2017

Simbok ; cerita budaya

"Mbok, kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, mbook...ben ngiriit.." kataku dg mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar, dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.
Sambil membenahi letak kayu2 bakar di tungku, simbok menjawab, "Hambok yo ben toooo..."
"Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja.." sahutku.
"Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?" tanya simbok kalem. Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung2nya pasti aku bakal kalah argumen.
"Lhaa itu?, tiap hari kan yo cuma simbok bagi2in ke tetangga2 to? Orang2 yg liwat2 mau ke pasar itu barang??" aku ngeyel.
"Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh ro barang kebuang.."
"Sodakoh kok mban dino?! Koyo sing wes sugih2o wae, mbooook mbok!" nadaku mulai tinggi.
"Ukuran sugih ki opo to, Kir?" Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!
"Hayo turah2 leh duwe opo2..Ngono we ndadak tekon!"
"Lha aku lak yo duwe panganan turah2 to? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh...". Tangannya yg legam dg kulit yg makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera utk berdebat.
"Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing2, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana. Nek nunggu bandamu mlumpuk lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi iklas. Simbokmu iki sugih, le, mban dino duwe pangan turah2, dadi iso aweh, tur kudu aweh. Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti Allah, ingatase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?", simbok tersenyum adem.
"Iyo, iyoooooh.."
"Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mban dino?"
"He eh."
"Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku. Jarene: "Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E....mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi2 ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam2, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..".. ngono kuwi, le. Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng paran omah kanggo wong2 sing liwat, nek mangsak mesti akeh ndak ono tonggo teparo mbutuhke. Pancen niate wes ngunu kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang2... Paham?"
Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.
Ah, simbok. Perempuan yg ngga pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dg caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yg bangga belajar kapitalisme dgn segala hitung2an untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bhw ada Tuhan yang menjamin
hidup setiap mahluk yg bernyawa. Simbokku benar: sugih itu kemampuan hati utk memberi utk liyan, bukan soal mengumpulkan utk diri sendiri...