Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Oktober 2017

Malioboro 1920 - Old Malioboro



credit to pambudi widodo

Inilah suasana Jl. Malioboro hampir seabad yang lalu, perhatikan mobil yang diparkir dipinggir jalan itu mirip andong, kalian yang dulu pernah lahir, tinggal, dan belajar di Jogja pasti pernah lewat di jalan ini, ya..... lokasinya didepan Gedung Senisono. Ayo konco2 kita belajar sejarah tentang gedung-gedung peninggalan masa kolonial di kota Jogja tercinta ini. 

pada jamannya, Dahulu, gedung ini merupakan bagian bangunan dari Societeit De Vereeniging yang didirikan pada tanggal 4 Juni 1822 atas prakarsa orang-orang Belanda yang dipelopori Luitnant de Terrie. Pada zaman kolonial, gedung ini merupakan pusat hiburan masyarakat Eropa. semacam operanya dijaman itu.

coba kita punya mesin waktu dan berkunjung pada jaman itu ya, pasti syahdu bener deh suasananya lingkungannya, apalagi masyarakatnya. walau dijaman tersebut masih jaman penjajahan. yogyakarta memang istimewa

Selasa, 28 Maret 2017

Blangkon sang penjaga nurani



Blangkon adalah tutup kepala yang digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa. Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik. Tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan asal mula pria jawa memakai ikat kepala atau penutup kepala ini.
Pada masyarakat jawa jaman dahulu, memang ada satu cerita Legenda tentang Aji Soko. Dalam cerita ini, keberadaan iket kepala pun telah disebut, yaitu saat Aji Soko berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa, hanya dengan menggelar sejenis sorban yang dapat menutup seluruh tanah Jawa. Padahal seperti kita ketahui , Aji Soko kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941 tahun yang lalu.
Blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. Ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. Yang dipergunakan sebenarnya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari telinga kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. Pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar. Blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu : Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bagian belakang blangkon yang berbentuk seperti Onde-onde. Blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya Yogyakarta. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.
Blangkon iku sajinis panutup sirah kanggo wong priya sing kagawé saka bahan kain bathik utawa lurik. Blangkon sejatiné wujud modhèrn lan praktis saka iket. Ing busana tradhisional adat Jawa lan adat Sundha blangkon dianggo minangka pasangan karo busana beskap.
Model trepes, yang disebut dengan gaya Surakarta. Gaya ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul karena kebanyakan pria sekarang berambut pendek. Model trepes ini dibuat dengan cara menjahit langsung mondholan pada bagian belakang blangkon. Selain dari suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), ada beberapa suku laindi Indonesia yang memakai iket kepala yang mirip dengan blangkon jawa yaitu : suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain. Hanya saja dengan pakem dan bentuk ikat yang berbeda-beda.

Senin, 27 Maret 2017

identitas peradaban negara vs politik belanda


Ahli-ahli sejarah Belanda sejak masa Kolonialisme sudah membuat rekayasa sejarah mengutamakan Kebudayaan Jawa dan Bali sebagai puncak kejayaan Melayu-Indonesia. Diantaranya sejarawan Belanda bernama Jan Laurens Andries Brandes dan Eduard Douwes Dekker. Keduanya menulis buku tentang Nusantara dengan wawasan yang sempit.

Keduanya menggunakan kata 'Nusantara' yang artinya kepulauan antara Jawa dan Bali. Penggunaan ini memiliki tujuan khusus. Yakni memunculkan Jawa dan Bali –yang beragama Hindu– sebagai pusat peninjauan utama kajian sejarah di rantau Nusantara.

Hindu-Budha memang lebih dulu berjaya di Nusantara daripada Islam. Akan tetapi kebudayaan Hindu-Budha tidak memberi bekas terhadap masyarakat Nusantara. Pengaruh kuat Hindu hanya terbatas kepada keluarga elit kerajaan. Sedangkan kalangan rakyat tidak begitu menghiraukan doktrin kebudayaan Hindu.

Dalam hal ini Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menulis: "Kita harus tahu bahwa kedatangan agama Hindu itu tidak mengubah pandangan hidup masyarakat Melayu-Indonesia, suatu Weltanschaung atau Pandangan dunia yang berdasarkan seni dan bukan Falsafah. Apabila agama Hindu tiba di kalangan mereka, ajaran-ajaran yang mengandung unsur falsafah tiada dihiraukan, dan yang lebih menarik hati mereka adalah ajaran-ajaran yang lebih sesuai dengan bawaan jiwa asli masyarakat."

Sejalan dengan analisis Syed Muhammad Naquib Al-Attas tersebut, Van Leur juga berkesimpulan sama. Ia menyatakan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia itu bukanlah sebenarnya masyarakat Hindu. Tapi hakikatnya hanya golongan bangsawan sajalah yang meresapi kebudayaan Hindu-Budha itu.

Karya sastra Kakawin Nagarakretagama ­yang ditulis Empu Prapañca pada masa Majapahit, misalnya, ditulis justru untuk kepentingan keraton dan istana. Ia tersimpan dan terpelihara hanya dalam 1 bentuk naskah, tidak diperbanyak. Karya ini tidak menyorotkan falsafah luhur yang menyerap akal budi. Karya lain seperti Kakawin Arjunawiwāha karya Empu Kanwa merupakan karya sastra yang mengandung falsafah namun tidak ada syarah atau penafsirannya yang bisa dipahami rakyat, sehingga mengisyaratkan karya ini khusus untuk elit raja-raja dan bangsawan.

Karya-karya tersebut dinikmati dan memang diingini oleh kalangan raja, namun gagal 'membumi' di kalangan rakyat jelata. Dan tidak membawa pengaruh dan kesan apa-apa. Sehingga, keberagamaan rakyat sesungguhnya lebih cenderung kepada kebudayaan Animisme khas Jawa daripada Agama Hindu.

Dalam catatan Syed Muhammad Naquib al-Attas, sarjana-sarjana Barat keliru dalam mengesankan kebudayaan asli pribumi itu Hindu-Budha. Beberapa mitologi dan teori kebudayaan yang berlangsung di kalangan penduduk pribumi Nusantara telah wujud dalam bentuk animisme sebelum Hindu-Budha datang. Ketika Hindu-Budha dianut raja-raja, para pemuka agama membuat rekayasa mempersamakan dengan adat-adat pribumi. Dalam legenda-legenda Hindu, cerita dibuat mirip. Lantas, kebudayaan tersebut diklaim sebagai Hindu.

Van Leur cukup terbuka dan tegas menolak pandangan kebanyakan sarjana Barat. Menurutnya, partisipasi masyarakat terhadap Hindu dilakukan dengan paksaan raja. Sehinga ia berkesimpulan bahwa masyarakat Melayu-Indonesia bukanlah masyarakat yang di-Hindu-kan. Adapun pengaruhnya, terlalu dibesar-besarkan oleh Orientalists Belanda dan Inggris.

Kebudayaan ini tidak mewariskan sebuah pandangan hidup yang filosofis dan rasional. Kebanyakan kebudayaan Hindu-Budha mewarisi seni arsitektur India, candi dan kesusastraan yang berbau mitos.
Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, selama abad ke-6 sampai 11 Masehi, konon Sumatera merupakan pusat terbesar agama dan falsafah Budha. Namun para pemukanya tidak memberi kesan apa-apa dalam bidang filsafat, tapi justru bidang seni.

Belanda juga membuat rekayasa sejarah Indian-centrik. Dipopulerkan bahwa kebudayaan Nusantara ini Hindu dari India. Al-Attas membantah teori Indian-centrik ini. Jadi, politik nativisasi Belanda ini bertujuan melanggengkan penjajah, dan mengesankan ketiadaan budaya rasional dan filosofis di bumi Nusantara. 

credit : dimas widhiarto